Mengungkap Misteri Kemiripan Bahasa Lampung dan Bahasa Sunda

Mengungkap Misteri Kemiripan Bahasa Lampung dan Bahasa Sunda

Firman Aji Dirgantara
Firman Aji DirgantaraPenulis SAE Lab
20 Juni 20267 menit baca2 kali dibaca

Jika kita melihat peta geografi Indonesia, Suku Sunda dan Suku Lampung dipisahkan secara tegas oleh bentang perairan Selat Sunda. Suku Sunda mendiami bagian barat Pulau Jawa, sementara Suku Lampung berada di ujung paling selatan Pulau Sumatra. Secara administratif dan kultur pop, keduanya berada di dunia yang berbeda. Namun, bagi para ahli linguistik (keilmuan bahasa), ada sebuah anomali yang sangat seksi dan menarik untuk dibedah: Bahasa Lampung dan Bahasa Sunda memiliki ikatan kekerabatan genetik yang luar biasa dekat, jauh lebih dekat ketimbang hubungan antara bahasa Lampung dengan bahasa Sumatra lainnya seperti bahasa Palembang atau Melayu.

Bagi masyarakat awam dari kedua suku, kenyataan ini sering kali mendatangkan rasa terkejut. Bagaimana mungkin dua kelompok masyarakat yang terpisah pulau dan terisolasi oleh lautan bisa memiliki kesamaan struktur tata bahasa hingga kosakata dasar yang identik? Fenomena sosiolinguistik ini bukan sekadar kebetulan, melainkan sebuah jejak sejarah migrasi kuno yang terekam abadi lewat media lisan.

Fakta Linguistik: Menakar Kedekatan Sub‑Rumpun Bahasa

Dalam pohon silsilah keluarga besar bahasa Austronesia, sebagian besar bahasa di Pulau Sumatra (seperti bahasa Minangkabau, Melayu, Palembang, hingga bentukan bahasa Musi) masuk ke dalam sub‑rumpun Melayik. Di sisi lain, bahasa Sunda di Jawa Barat berada di kelompoknya sendiri. Menariknya, bahasa Lampung tidak masuk ke dalam kelompok Melayik Sumatra.

Berdasarkan penelitian mendalam dari para ahli linguistik barat seperti Karl Anderbeck dan Bernd Nothofer, bahasa Lampung justru membentuk kelompok mandiri yang disebut Lampungik. Berdasarkan analisis leksikostatistik (perhitungan usia kemiripan kosakata dasar), sub‑rumpun Lampungik ini memiliki kedekatan genetik kedekatan purba (proto‑language) yang sangat intim dengan Bahasa Sunda dan Bahasa Madura.

Teori ini mematahkan asumsi bahwa bahasa Lampung hanyalah turunan atau dialek dari bahasa Melayu Sumatra. Secara DNA bahasa, seorang penutur bahasa Lampung sebenarnya sedang berbicara menggunakan struktur yang jauh lebih selaras dengan bahasa masyarakat di tanah Pasundan.

Bedah Kosakata: Persamaan Kata Dasar yang Identik

Kemiripan antara bahasa Lampung (khususnya dialek Api atau dialek Belalau/Pesisir) dengan bahasa Sunda paling mudah dibuktikan melalui perbandingan kosakata dasar (swadesh list). Kosakata dasar ini meliputi kata ganti orang, anggota tubuh, dan aktivitas biologis dasar manusia yang biasanya paling tahan terhadap perubahan zaman.

Jika kita perhatikan secara saksama, intonasi, penekanan artikulasi, serta struktur fonologi antara bahasa Lampung dan bahasa Sunda memiliki ketukan irama yang sangat mirip saat diucapkan secara lisan. Berikut adalah rincian kosakata dasar yang menunjukkan kemiripan mencengangkan antara kedua bahasa tersebut:

Kata untuk Tidur: Dalam bahasa Lampung dialek Api disebut Pedom, yang memiliki kemiripan akar kata dengan bahasa Sunda kuno atau kasar yaitu Mondok (atau bentuk halusnya Pondok).

Kata untuk Makan: Masyarakat Lampung menggunakan kata Mengan, sementara dalam bahasa Sunda terdapat kosakata halus Tuang dan ragam kasar yang berbunyi Mangkan atau Nyatu.

Kata untuk Kerbau: Kedua bahasa ini memiliki sebutan yang sama persis untuk hewan ini, yaitu Kebo (atau dieja Kebaou dalam dialek Lampung tertentu), di samping bahasa Sunda juga mengenal kata Munding.

Kata untuk Mata: Untuk menyebut indra penglihatan, bahasa Lampung menggunakan kata Mata, yang sama dengan ragam bahasa Sunda kasar yaitu Mata (sedangkan ragam halusnya adalah Panon).

Kata untuk Kamu / Engkau: Kata ganti orang kedua ini diucapkan sebagai Ikaou atau Nikku dalam bahasa Lampung, yang sangat selaras dengan ketukan kata ganti bahasa Sunda seperti Ieu, Maneh, atau Sia.

Kata untuk Benar / Betul: Ketika membenarkan sesuatu, orang Lampung akan mengucapkan Benok, yang berkerabat sangat dekat dengan kosakata Sunda yaitu Bener.

Kata untuk Bagian Belakang: Istilah ini memiliki kesamaan fonetis yang mutlak, di mana bahasa Lampung menyebutnya Pungkur, dan bahasa Sunda juga menggunakannya dalam kata Pungkur (artinya bagian belakang atau tukang).

Kata untuk Dinding: Untuk merujuk pada anyaman bambu penutup rumah tradisional, baik bahasa Lampung maupun bahasa Sunda sama‑sama kompak menggunakan istilah Bilik.

Pola penyerapan bunyi vokal dan konsonannya mengindikasikan bahwa kedua bahasa ini pernah menggunakan satu bahasa induk yang sama di masa lampau sebelum akhirnya terpisah dan berkembang secara mandiri karena faktor isolasi geografis.

Melacak Jejak Sejarah Migrasi Kuno Lintas Selat Sunda

Bagaimana garis sejarah menjelaskan kemiripan ini? Ada dua hipotesis historis utama yang sering digunakan oleh para sejarawan dan antropolog untuk mengurai benang kusut hubungan Lampung‑Sunda:

Hipotesis Migrasi dari Pulau Jawa: Teori pertama menyebutkan bahwa pada masa purba, kelompok masyarakat dari bagian barat Pulau Jawa melakukan migrasi besar‑besaran menyeberangi Selat Sunda menuju ujung selatan Pulau Sumatra. Kelompok migran inilah yang kemudian menetap di sekitar Gunung Pesagi (asal‑usul mitologi Suku Lampung) dan membawa bahasa induk mereka yang bertransformasi menjadi bahasa Lampung kuno.

Pengaruh Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara dan Sunda: Teori kedua berbasis pada ekspansi politik. Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 Masehi, Kerajaan Tarumanegara yang berpusat di Jawa Barat memiliki pengaruh kekuasaan maritim yang kuat hingga menyeberang ke wilayah Lampung. Hubungan ini dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda (Galuh‑Pakuan). Lampung pada masa itu merupakan daerah penghasil lada utama yang menjadi komoditas emas bagi kerajaan‑kerajaan di Jawa Barat. Kontak perdagangan, pernikahan politik antar‑bangsawan, dan penempatan koloni masyarakat Sunda di pesisir Lampung selama berabad‑abad inilah yang menanamkan pengaruh linguistik yang sangat mendalam.

Aksara Lampung dan Aksara Sunda: Kemiripan Visual yang Selaras

Kedekatan budaya Lampung dan Sunda tidak hanya berhenti pada bahasa lisan, tetapi juga merambah ke dunia bahasa tulis kuno. Suku Lampung memiliki aksara tradisional yang disebut Aksara Lampung atau Had Lampung (sering disebut sebagai tulisan Kaganga). Di sisi lain, masyarakat Jawa Barat memiliki Aksara Sunda Kuno.

Jika kedua aksara kuno ini disejajarkan dan dianalisis secara paleografi (ilmu tulisan kuno), keduanya memiliki kemiripan bentuk visual grafis yang sangat mencolok. Baik aksara Lampung maupun aksara Sunda sama‑sama mengadopsi sistem abugida yang ditarik dari akar Aksara Pallawa dari India Selatan. Guratan garisnya cenderung tajam, patah‑patah, dan dinamis, berbeda dengan Aksara Jawa (Hanacaraka) atau Aksara Bali yang cenderung melengkung bulat dan penuh dekorasi. Kemiripan sistem tulisan ini memperkuat bukti fisik bahwa pada masa lalu, arus pertukaran intelektual dan budaya antara koridor Sunda dan Lampung berjalan sangat intensif.

Kesimpulan: Warisan Kosmopolitan Nusantara yang Mengagumkan

Menemukan fakta bahwa Bahasa Lampung memiliki kemiripan yang pekat dengan Bahasa Sunda membuka mata kita tentang betapa kayanya sejarah Nusantara. Batas alam seperti laut dan selat ternyata tidak pernah menjadi penghalang bagi nenek moyang kita untuk saling berinteraksi, berbagi bahasa, dan merajut benang kebudayaan yang sama.

Di tengah era modernisasi global saat ini, kesadaran akan adanya hubungan "saudara kembar lintas selat" antara Lampung dan Sunda ini harus terus digaungkan. Hal ini bukan hanya penting untuk kepentingan ilmu bahasa semata, melainkan sebagai pengingat emosional yang manis bahwa kita semua di tanah air ini terhubung oleh akar sejarah yang satu, sedekat jarak antara Lampung dan Sunda yang terhubung erat di bawah permukaan laut Selat Sunda.

Referensi artikel :

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikbudristek RI (Peta Bahasa Daerah dan Analisis Hubungan Kekerabatan Dialek Nusantara)

Link: https://petabahasa.kemdikbud.go.id

SIL International - Karl Anderbeck (Kajian Komprehensif Mengenai Silsilah dan Vitalitas Rumpun Bahasa Lampungik)

Link: https://www.sil.org

Jurnal Kebudayaan Sunda - Universitas Padjadjaran (Kajian Paleografi Perbandingan Aksara Sunda Kuno dan Aksara Nusantara)

Link: https://jurnal.unpad.ac.id

Saelab Logo
Jalan Kaliurang KM 9,5, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
+62 821-3790-3311 (Admin)
admin@saelab.id
© 2026 SAE. All rights reserved
Hubungan Unik Bahasa Lampung dan Sunda: Kemiripan yang unik