Menjelajahi Kelezatan Makanan Khas Lampung yang Kaya Rasa dan Tradisi

Menjelajahi Kelezatan Makanan Khas Lampung yang Kaya Rasa dan Tradisi

Firman Aji Dirgantara
Firman Aji DirgantaraSAE Lab Author
June 23, 20267 min read2 reads

Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan keberagaman budaya, suku, dan tentu saja kulinernya. Setiap daerah memiliki cita rasa unik yang dipengaruhi oleh hasil bumi dan tradisi turun‑temurun masyarakat setempat. Salah satu wilayah yang menyimpan potensi kuliner luar biasa namun sering kali luput dari perhatian para pencinta kuliner adalah Provinsi Lampung. Terletak di ujung selatan Pulau Sumatra, Lampung memiliki posisi geografis yang sangat strategis sebagai gerbang transmigrasi dan perdagangan. Hal ini membuat kuliner tradisional mereka tumbuh dengan karakter yang sangat kuat dan unik.

Sebagian besar makanan khas Lampung memanfaatkan hasil alam setempat, terutama ikan sungai, ikan laut, serta buah‑buahan tropis yang melimpah seperti durian dan mangga. Perpaduan antara rasa pedas yang menggigit, asam yang segar dari fermentasi alam, serta gurihnya rempah‑rempah pilihan menjadi ciri khas utama yang akan Anda temukan di setiap hidangan Bumi Ruwa Jurai ini. Bagi Anda yang sedang merencanakan liburan atau sekadar ingin menjelajahi kekayaan rasa Nusantara, artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai rekomendasi kuliner tradisional Lampung yang wajib masuk dalam daftar buruan Anda.

  • 1. Seruit: Simbol Kebersamaan dan Tradisi "Nyeruit"

Jika berbicara mengenai makanan khas Lampung, maka hidangan pertama yang wajib disebut adalah Seruit. Makanan ini bukan sekadar menu pengisi perut biasa, melainkan sebuah simbol kultural yang merekatkan hubungan kekeluargaan di masyarakat Lampung. Seruit biasanya disajikan dalam acara‑acara besar, seperti pesta adat, pernikahan, atau momen kumpul keluarga. Tradisi menyantap hidangan ini bersama‑sama dikenal oleh masyarakat lokal dengan istilah Nyeruit.

Secara penyajian, Seruit terdiri dari ikan bakar atau ikan goreng yang umumnya menggunakan jenis ikan air tawar seperti ikan baung, balida, atau layis. Keunikan Seruit terletak pada cara makannya, di mana daging ikan tersebut akan dihancurkan dan diaduk menjadi satu dengan sambal terasi khas Lampung yang pedas. Tak lupa, campuran tersebut ditambahkan dengan tempoyak (fermentasi durian) atau irisan mangga kweni yang memberikan sensasi rasa asam segar dan aroma yang sangat harum. Menyantap Seruit bersama sepiring nasi hangat dan aneka lalapan mentah akan memberikan pengalaman rasa yang tidak akan Anda lupakan.

  • 2. Tempoyak: Keunikan Durian Fermentasi Khas Sumatra

Bagi sebagian besar orang, durian adalah buah meja yang dinikmati langsung setelah dikupas. Namun, di tangan masyarakat Lampung dan beberapa daerah lain di Sumatra, durian disulap menjadi bumbu masakan yang sangat lezat bernama tempoyak. Tempoyak dibuat melalui proses fermentasi daging buah durian masak yang diberi sedikit garam, kemudian disimpan di dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga menghasilkan rasa asam yang pekat dan tekstur yang lembut.

Dalam khazanah makanan khas Lampung, tempoyak jarang sekali dikonsumsi secara mandiri. Bahan unik ini lebih sering digunakan sebagai bumbu dasar atau penyedap alami untuk berbagai masakan. Anda bisa menemukan tempoyak yang diolah menjadi sambal tempoyak, campuran bumbu pepes ikan, atau sebagai kuah kental untuk masakan seafood. Rasa gurih‑asam‑manis yang dihasilkan oleh tempoyak memberikan dimensi rasa baru yang sangat dicari oleh para petualang kuliner sejati.

  • 3. Gabing: Sayur Unik dari Batang Kelapa Muda

Jika Anda bosan dengan menu sayuran yang itu‑itu saja, Lampung memiliki sebuah kuliner tradisional yang sangat langka dan unik bernama Gabing. Jika biasanya hidangan sayur berkuah santan menggunakan bahan dasar nangka muda atau rebung (bambu muda), Gabing justru menggunakan bagian paling dalam dari batang pohon kelapa yang masih muda (umbut kelapa). Karena bahan bakunya yang hanya bisa didapatkan dengan menebang pohon kelapa muda, Gabing kini menjadi hidangan yang cukup istimewa dan biasanya disajikan pada acara‑acara khusus.

Untuk membuatnya, batang kelapa muda tersebut diiris tipis‑tipis menyerupai korek api atau dipotong kotak, kemudian direbus bersama bumbu rempah‑rempah dan kuah santan yang gurih. Tekstur dari Gabing ini sangat unik, yaitu renyah saat digigit namun memiliki rasa manis alami yang lembut di dalamnya. Perpaduan rasa manis dari umbut kelapa dan gurihnya kuah santan membuat Gabing menjadi hidangan pendamping yang sangat pas untuk menemani lauk pakan berbahan dasar ikan atau daging.

  • 4. Pindang Lampung: Kesegaran Kuah Asam Pedas yang Menggugah Selera

Selain Seruit, olahan ikan berkuah yang sangat populer dan menjadi primadona di berbagai tempat makan di Lampung adalah Pindang Lampung. Berbeda dengan jenis pindang dari daerah Jawa yang cenderung kering atau asin, pindang khas dari Sumatra ini disajikan dengan kuah melimpah yang berwarna kuning kemerahan. Jenis ikan yang paling sering digunakan adalah ikan baung atau ikan patin karena memiliki tekstur daging yang lembut dan kandungan lemak yang gurih.

Kunci kelezatan Pindang Lampung terletak pada keseimbangan rasa kuahnya yang merupakan perpaduan antara pedasnya cabai, asam segar dari belimbing wuluh atau nanas, serta aroma wangi yang pekat dari daun kemangi dan serai. Hidangan ini sangat cocok dinikmati di siang hari karena kesegaran kuahnya langsung bisa membangkitkan selera makan Anda. Pindang biasanya disajikan bersama sambal mangga dan lalapan segar sebagai pelengkap wajib.

5. Gulai Taboh: Perpaduan Santan dan Hasil Laut

Makanan khas Lampung lainnya yang tidak boleh Anda lewatkan adalah Gulai Taboh. Dalam bahasa lokal, kata taboh memiliki arti santan atau berkuah santan. Secara umum, Gulai Taboh dibagi menjadi dua versi penunjang utama berdasarkan wilayahnya. Versi pertama adalah gulai taboh masyarakat pesisir yang menggunakan bahan dasar ikan laut yang dipadukan dengan sayuran seperti daun singkong, kacang panjang, atau rebung.

Versi kedua adalah gulai taboh masyarakat pedalaman yang lebih sering menggunakan ikan sungai yang sebelumnya telah diasap (dikenal dengan nama ikan iwa tapa). Kuah santan pada Gulai Taboh dimasak dengan bumbu kuning yang kaya akan kunyit, kemiri, dan lengkuas. Rasanya cenderung gurih pekat namun tetap memiliki sentuhan segar yang khas, menjadikannya salah satu menu wajib yang selalu dirindukan oleh perantau asal Lampung.

  • 6. Engkak: Kue Tradisional Manis Bertekstur Kenyal

Setelah puas menjelajahi makanan berat yang gurih dan pedas, saatnya kita beralih ke hidangan pencuci mulut tradisional khas Lampung bernama Engkak. Secara tampilan visual, Engkak memiliki kemiripan yang cukup dekat dengan kue lapis legit yang terkenal premium. Namun, dari segi bahan baku dan tekstur, kedua kue ini memiliki perbedaan yang sangat mendasar yang membuatnya unik.

Engkak dibuat dengan menggunakan bahan utama berupa tepung ketan, telur, gula pasir, mentega, dan santan kelapa dalam jumlah yang cukup banyak. Proses pemanggangannya dilakukan secara berlapis‑lapis dengan tingkat kesabaran yang tinggi. Karena menggunakan tepung ketan, Engkak menghasilkan tekstur kue yang jauh lebih kenyal, padat, dan basah dibandingkan dengan kue lapis biasa. Rasa manisnya yang legit dan gurihnya santan membuat kue ini menjadi hidangan mewah yang selalu dinanti saat perayaan Hari Raya Idulfitri di Lampung.

  • 7. Kemplang Panggang: Camilan Renyah Beraroma Ikan yang Khas

Tidak lengkap rasanya membahas kuliner suatu daerah tanpa menyertakan camilan atau buah tangan khasnya. Lampung memiliki kemplang panggang, sejenis kerupuk berbahan dasar tepung sagu dan daging ikan giling (biasanya ikan tenggiri atau ikan gabus). Berbeda dengan kerupuk pada umumnya yang dimatangkan dengan cara digoreng dalam minyak panas, kemplang khas Lampung ini dimatangkan dengan cara dipanggang di atas bara api.

Proses pemanggangan tradisional ini memberikan aroma sangit yang khas dan membuat kemplang merekah dengan tekstur yang sangat renyah tanpa kandungan minyak. Kemplang panggang biasanya berbentuk bulat pipih dan disajikan bersama cocolan sambal cair yang memiliki rasa manis, asam, dan pedas yang pas. Camilan ini sangat mudah ditemukan di berbagai toko oleh‑oleh di sepanjang jalan protokol Provinsi Lampung.

Kekayaan makanan khas Lampung membuktikan bahwa daerah ini memiliki potensi wisata kuliner yang sangat besar dan patut untuk terus dilestarikan. Mulai dari keunikan rasa Seruit yang menuntut kebersamaan, kesegaran Pindang Baung, hingga manisnya kue Engkak, semuanya menawarkan petualangan rasa yang autentik bagi siapa saja yang mencobanya. Mengunjungi Lampung tidak akan pernah lengkap tanpa mencicipi langsung hidangan‑hidangan legendaris ini di tempat asalnya. Jadi, pastikan untuk memasukkan rekomendasi kuliner di atas ke dalam agenda perjalanan Anda berikutnya!

Referensi Bacaan :

Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. (2022). Ragam Kuliner Tradisional Lampung: Pesona Rasa di Gerbang Sumatra. Tersedia pada laman resmi Dinas Pariwisata Lampung: https://pariwisata.lampungprov.go.id/.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2019). Warisan Budaya Takbenda Indonesia: Tradisi Nyeruit dan Kuliner Seruit Lampung. Tersedia pada Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya: https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/.

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII. (2023). Eksistensi Kebudayaan Kuliner Tradisional Gabing dan Engkak di Masyarakat Lampung. Tersedia pada Repositori Kebudayaan Kemendikbudristek: https://kebudayaan.kemendikbud.go.id/.

Saelab Logo
Jalan Kaliurang KM 9,5, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
+62 821-3790-3311 (Admin)
admin@saelab.id
© 2026 SAE. All rights reserved
7 Makanan Khas Lampung Paling Enak yang Wajib Dicoba